Senin, 03 Juli 2017

ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN PADA SURAT KABAR HARIAN ANALISA DAILY



ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN PADA SURAT KABAR HARIAN ANALISA DAILY

(Studi Deskriptif Kualitatif Pemberitaan Pergaulan Bebas Remaja Akibat Tekanan Orangtua Tanggal 15 April 2016 )

Lathifatul Fuadah (dindah369@gmail.com) 081230376664


Abstrak

Di Indonesia, terutama di kota – kota besar perilaku pergaulan bebas pada remaja semakin meningkat. Akibat dari perilaku tersebut adalah kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, merebaknya pelacuran di kalangan remaja, aborsi, penyakit menular seksual, pelecehan seksual dan penyimpangan – penyimpangan seksual serta pemakaian narkoba pada kalangan remaja. Ada banyak yang melatarbelakangi pergaulan bebas pada remaja, kurang berkualitasnya komunikasi antara orangtua dan anak serta adanya tekanan yang diberikan kepada anak oleh orangtua. Dengan demikian, tujuan penelitian ini mendeskripsikan wacana artikel dengan tema pergaulan bebas. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah artikel-artikel dengan tema pergaulan bebas di harian.analisadaily.com. teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik dokumentasi. Teknik analisi digunakan teknik analisis induktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara linguistik formalistk ditinjau dari kohesi, subtitusi, elipsis, repetisi, sinonim, given dan new information dan genre dapat disimpulkan bahwa artikel-artikel tersebut masuk dalam kategori wacana yang bagus karena kesesuaian unsur-unsur tata bahasa yang ada di dalamnya. Kajian wacana kritis ditinjau dari ideologi yang ingin disampaikan penulis, hegemoni, marginalisasi, dan tindakan diharapkan dapat memberikan saran bagi pembaca untuk bersikap kritis terhadap segala informasi yang diterima. Selain itu berdasarkan analisis wacana kritis terdapat nilai kreatif dan tanggung jawab.
Kata kunci : pergaulan bebas, wacana kritis.
Abstract

In Indonesia, especially in big cities the behavior of free association in adolescents is increasing. The consequences of such behavior are extramarital pregnancies, rape, prostitution among adolescents, abortion, sexually transmitted diseases, sexual harassment and irregularities - sexual deviance and drug use among adolescents. There are many underlying promiscuity in adolescents, poor quality communication between parent and child and the pressure given to the child by the parents. Thus, the purpose of this study describes the discourse of articles with the theme of promiscuity. The method used is descriptive qualitative. The data in this study are articles with the theme of free association in daily.analisadaily.com. Data collection techniques using documentation techniques. Analytical technique used inductive analysis technique. The results of this study indicate that the formalistk linguistic in terms of cohesion, substitution, ellipsis, repetition, synonyms, given and new information and genre can be concluded that the articles fall into the category of good discourse because of the suitability of the elements of grammar in it . Critical discourse review in terms of the ideology to be conveyed author, hegemony, marginalization, and action is expected to provide advice for readers to be critical of any information received. In addition, based on critical discourse analysis, there are creative values ​​and responsibilities.

Pendahuluan
Masa remaja ialah suatu waktu kritis untuk pambanguunan akhlak, nilai-nilai, dan kebiasaan yang hanya akan dirasakan satu kali seumur hidupnya untuk dituntut menjadi kader yang dihadapkan padatantangan global. Namun yang terjadi pada remaja saat ini ialah maraknya kasus-kasus perilaku seks bebas yang mengaklibatkan kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, merebaknya pelacuran dikangan remaja, aborsi, penyakit menualar seksual, pelecehan seksual dan penyimpangan-penyimpangan seksual (sukri, dalam Mukti et al:2005)
Kajian Pustaka
Teori Kognisi Sosial Teun A. Van Djik
Dari begitu banyak model analisis wacana yang diintoduksikan dan dikembangkan oleh beberapa ahli, model van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Hal ini mungkin disebabkan karena van Dijk menformulasikan elemen-elemen wacana, sehingga bisa dipakai secara praktis. Model yang dipakai oleh van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi sosial” (Eriyanto 2001:221). Dalam buku Eriyanto, Van Dijk melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi/ pikiran dan kesadaran membentuk dan berpengaruh terhadap teks tertentu. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi/ bangunan : teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Dalam dimensi teks yang pertama, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Ketiga dimensi ini merupakan bagian yang integral dan dilakukan secara bersama-sama dalam analisis Van Dijk (Eriyanto 2001:225).
Ø  Teks
Van Dijk membagi struktur teks ke dalam tiga tingkatan. Pertama, struktur makro. Ini merupakan makna global/ umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka atau skema suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga,struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, parafrase dan lain-lain.
Meskipun terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan satu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka teks dan baru kemudian pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Kita bisa membuat pemberitaan tentang demonstrasi mahasiswa terhadap isu kenaikan BBM. Misalnya, Koran A mengatakan bahwa aksi ini terjadi karena kekecewaan mahasiswa dan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM semata tanpa ada motif atau tuntutan yang lain.
Tema ini akan didukung dengan skematik tertentu. Misalnya dengan menyusun cerita yang mendukung gagasan tersebut. Media tersebut juga akan menutupi fakta tertentu dan hanya akan menjelaskan peristiwa itu semata pada masalah BBM. Pada tingkat yang lebih rendah, akan dijumpai pemakaian kata-kata yang menunjuk dan memperkuat pesan bahwa demonstrasi tersebut semata kasus kenaikan harga. Semua teks dipandang van Dijk mempunyai suatu aturan yang dapat dilihat sebagai sebuah piramida. Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat, dan proposisi yang dipakai. Pernyataan atau tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat, atau retorika tertentu. Pemakaian kata, kalimat, proposisi, retorika tertentu oleh media dipahami van Dijk sebagai bagian dari strategi wartawan.

1.                   Struktrur makro (thematic structure)

Struktur makro merupakan makna global sebuh teks yang dapat dipahami melalui topiknya. Topik direpresentasikan ke dalam suatu atau beberapa kalimat yang merupakan gagasan utama/ide pokok wacana. Topik juga dikatakan sebagai “semantic macrostructure” (van Dijk, 1985:69). Makrostruktur ini dikatakan sebagai semantik karena ketika kita berbicara tentang topik atau tema dalam sebuah teks, kita akan berhadapan dengan makna dan refrensi.
                                
2.                   Superstruktur (superstructure)

 Superstruktur merupakan struktur yang digunakan untuk mendeskripsikan sehemata, di mana keseluruhan topik atau isi global berita diselipkan. Superstruktur ini mengorganisikan topik dengan cara menyusun kalimat atau unit-unit beritanya berdasarkan urutan atau hiraki yang diinginkan. Teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga membentuk kesatuan arti. Meskipun mempunyai bentuk dan skema yang beragam, berita umumnya mempunyai dua kategori skema besar. Pertama, summary yang biasanya ditandai dengan dua elemen yakni judul dan lead. Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang paling penting. Judul umumnya menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh wartawan dalam pemberitaannya. Lead umumnya sebagai pengantar ringkasan apa yang ingin dikatakan sebelum masuk dalam isi berita secara lengkap. Kedua, story yakni isi berita secara keseluruhan. Isi berita ini juga mempunyai dua subkategori. Yang pertama berupa situasi yakni proses atau jalannya peristiwa, sedang yang kedua komentar yang ditampilkan dalam teks.

3.    Struktur Mikro
Struktur mikro adalah struktur wacana itu sendiri yang terdiri atas beberapa elemen, yaitu:

1)   Elemen sintaksis
Elemen sintaksis merupakan salah satu elemen penting yang dimaanfaatkan untuk mengimplikasikan ideologi. Dengan kata lain, melalui struktur sintaksis tertentu, pembaca dapat menangkap maksud yang ada dibalik kalimat-kalimat dalam berita. Melalui struktur sintaksis, wartawan dapat menggambarkan aktor atau peristiwa tertentu secara negafit maupun posifit.
a.       Koherensi
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarakata, atau kalimat dalam teks, Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren.
b.      Koherensi Kondisional
Koherensi Kondisianal diantaranya ditandai dengan pemakian anak kalimat sebagai penjelas. Di sini ada dua kalimat,di mana kalimat kedua adalah penjelas atau keterangan dari proposisi pertama, yang dihubungkan dengan kata hubung konjungsi, seperti “yang” atau “dimana”. Kalimat kedua fungsinya hanya sebagai penjelas (anak kalimat), sehingga ada atau tidak anak kalimat itu,tidak akan mengurangi arti kalimat. Anak kalimat itu menjadi cermin kepentingam komunikator karena ia dapat memberi keterangan yang baik/buruk terhadap suatu pertanyaan.
c.       Koherensi pembeda
Jika koherensi kondisional berhubungan dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa dihubungkan/dijelaskan. Koherensi pembeda berhubungan dengan pertanyaan, bagaimana dua buah peristiwa atau fakta itu hendak dibedakan.
d.      Pengingkaran
Elemen wacana pengingkaran adalah bentuk praktik wacana yang menggambarkan bagai mana wartawan menyembunyikan apa yang anggin diekpresikan secara amplisit. Penginakaran ini menunjukkan seolah wartawan menyetujui sesuatu, pahal ia tidak setuju dengan memberikan argumentasi atau fakta yang menyangkal persetujuannya tersebut.
e. Bentuk kalimat
Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Di mana ia menyatakan apakah A yang menjelaskan B, atau B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini jika diperjemahkan ke dalam bahasa menjadi susunan objek (diterangkan) dan predikat (menerangkan). Bentuk lain adalah dengan pemakian urutan kata-kata yang mempunyai dua fungsi sekaligus. Pertam, menekankan atau menghilangkan dengan penempatan dan pemakian kata atau frase yang mencolok dengan menggunakan pemakian semantik. Yang juga penting dalam sintaksis selain bentuk kalimat adalah posisi proposisi dalam kalimat. Bagaiman proposisi-proposisi diatur dalam satu rangkaian kalimat. Termasuk ke dalam bagian bentuk kalimat ini adalah apakah berita itu memakai bentuk deduktif atau indukfit. Dedukfit adalah bentuk penulisan kalimat dimana inti kalimat (umum) ditempatkan di bagian mukak, kemudian disusul dengan keterangan tambahan (khusus). Sebaliknya, bentuk induktif adalah bentuk penulisan di mana inti kilimat ditempatkan di akhir setelah keterangan tambahan.
f.     Kata Ganti
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imanjinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menujukkan di mana posisi seseorang dalam wacana. Dalam mengungkapkan sikapnya, seseoarang dapat menggunakan “kami” atau “saya” yang menggambarkan bahwa sikap tersebut merupakan sikap resmi komunikator. Namun, ketika menggunakan kata ganti “kita”, sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas tersebut. pemakian kata ganti yang jamak seperti “kita” (atau“kami”)
2)   Elemen Semantik (makna lokal)
Elemen semantik ini sangat erat hubunganya dengan elemen leksikon dan sintaksis sebab penggunaan leksikon dan struktur sintaksis tertentu dalam berita dapat memunculkan makna tertentu. Berikut ini adalah unsur-unsur wacana yang tergolong ke dalam elemen semantik.
1.      Latar
Latar merupakan bagian berita yang dapat mengpengaruhi semantik (arti) yang inggin ditampilkan. Latar dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks (Eriyanto, 2006.235). oleh karena itu, latar teks merupakan elemen yang berguna karena dapat membongkar apa maksud yang inggin disampaikan oleh wartawan. Latar peristiwa itu dipakai untuk menyediakan dasar hendak ke mana teks dibawah.
2.      Detil
Elemen wacana detil berhunungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang (Eriyanto, 2006: 238). Detil yang lengkap dan panjang merupakan penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak. Detil yang lengkap itu akan dihilangkan kalau berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut kelemahan atau kegagalan komunikator.


3.      Maksud
Elemen wacana maksud hampir sama dengan detil, hanya saja elemen maksud meliat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit, dan tersembunyi.
4.      Pranggapan
Elemen wacana pranggapan merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Pranggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya. Pranggapan hadir dengan pernyataan yang dipandang terpercaya sehingga tidk perlu dipertanyakan.

3)    Elemen leksikon
Elemen leksikom menyangkut pemilihan diksi. Pemilihan diksi telah diketahui dapat mengeskspresikan idiologi maupun persuai, sebagaimana yang terjadi pada “terrorist” dan “freedomfighter”. Bagaimana aktor yang sama digambarkan dengan dua diksi yang berbeda berimplikasi pada pemahaman pembaca tenteng aktor tersebut.


4)   Elemen Retorik
Elemen ritorik menyangkut penggunaan repetisi, alitersi, metafora yang dapat berfungsi sebagai “idiologi control” manakalah sebuah informasi yang kurang baik tentang aktor tertentu dibuat kurang mencolok sementara informasi tentang aktor lain ditekankan. Dengan kata lain, retorik ini digunakan untuk memberi penekanan posifif atau negatif terhadap aktor atau peristiwa dalam berita.
a.       Grafis
Elemem ini merupakan bagian untuk memberikan apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. Dalam berita elemen grafis ini biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat berbeda dibandingkan tulisan lain, seperti pemakian huruf tebal, huruf miring, garis bawah, huruf dengan ukuran lebih besar,termasuk pemakian caption, raster, grafik, gambar, foto dan tabel untuk mendukung pesan. Pemakian angka-angka dalam berita diantaranyadigunakan untuk menyugestikan kebenaran, ketelitian, dan posisi dara suatu laporan. Pemakian jumlah, ukuran statistik menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2006:258) bukan semata bagian dari standar jurnalistik, melainkan juga menyugestikan presisi dari apa yang hendak dikatakan dalam teks.
b.      Metafora
Dalam suatu wacana, seorang wartawan tidak hanya menyampaikan pesan pokok lewat teks, tetapi juga kiasan,ungkapan, metafora yang dimaksudkan sebagian ornamen atau bumbuu dari suatu berita. Akan tetapi, pemakian metafora tertentu bisa jadi pakian oleh wartawan secara strategi sebagai landasan berfikir, alasan pembenar atas pendapat tertentu kepada publik. Penggunaan ungkapan sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, bahkan ungkapan ayat suci dipakai untuk memperkuat pesan utama.

Metode
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan suaatu hal dengan cara pengumpulan data Penelitian kualitatif menggunakan metode pengumpulan data secara kualitatif yaitu pengamatan (Moleong, 2011: 9).Penelitian deskriptif berusaha memberikan penyelesaian masalah berdasarkan data-data.  Deskriptif merupakan metode yang bertujuan membuat deskriptif berupa gambaran, lukisan secara otomatis, faktual, dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djasudarma, 2010: 9). Penelitian ini mengambil sumber data berupa artikel-artikel dari suara net. Com dengan tema yang sama. Yakni keutuhan rumah tangga bila perselingkuhan ketahuan, jika ketahuan, komitmen memaafkan. Data penelitian ini adalah semua frasa, klausa kalimat, dan paragraf.  Teknik pengumpulan data dengan teknik dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini bersifat analisis induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan kemudian dikonstruksikan menjadi sebuah teori (Sugiyono, 2008:15).
Hasil
Deskripsi Data
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form

Pergaulan Bebas Remaja Akibat Tekanan Orangtua

SALAH satu faktor yang menyebabkan pergaulan bebas di kalangan remaja karena adanya tekanan dari orangtua, kata Wakil Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Muslimatun.
"Banyak kasus remaja hamil di luar nikah yang terjadi menjelang ujian nasional mengakibatkan anak tidak dapat mengikuti ujian," kata Sri Muslimatun, Sabtu.
Menurut dia, tekanan secara terus menerus mengakibatkan anak menjadi kurang pergaulan.
"Kasus pergaulan bebas saya amati malah lebih banyak menyerang anak yang cerdas secara intelektual. Orangtua diminta membekali anak-anak dengan kecerdasan emosional dan spiritual," katanya.
Ia mengatakan, bila dilihat dari struktur penduduk Kabupaten Sleman, kurang lebih 21 persen dari jumlah penduduk merupakan generasi muda.
Oleh karena itu, katanya, Pemerintah Kabupaten Sleman memiliki tugas untuk membina generasi muda penerus ini dengan memberikan ruang untuk memacu kreativitas para remaja agar selalu melakukan kegiatan yang positif.
"Pemahaman generasi muda dan remaja terhadap kesehatan reproduksi harus dimulai dengan penanaman nilai-nilai positif pada para remaja.  Pengenalan kesehatan reproduksi pada remaja menjadi bekal penting generasi penerus tersebut untuk mengarungi masa depannya," katanya.
Sri Muslimatun mengatakan peran keluarga sangat penting karena remaja masih dalam pembinaan dan pengasuhan orangtua, dimana pembentukan karakter remaja dimulai dari keluarga. 
"Sehubungan dengan hal tersebut pengem­bangan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Pusat Konfirmasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dapat membantu orangtua dalam memahami remaja, permasalahan remaja, dan cara berkomunikasi dengan remaja.
"Hingga 2015 jumlah BKR di Kabupaten Sleman tercatat sebanyak 154. sedangkan PIK-R sebanyak 112 yang terdiri dari 31 PIK-R jalur sekolah dan 81 PIK-R jalur nonsekolah," katanya.
Ketua BKR Sembadra Dusun Karang Kalasan, Sleman Zubaedah mengatakan kegiatan BKR yang dilakukan di Dusun Karang adalah penyuluhan seputar masalah remaja dengan sasaran anak remaja dan keluarga yang memiliki anak remaja.
"Anak-anak remaja kami juga telah melakukan deklarasi untuk menikah bagi anak laki-laki minimal usia 25 tahun dan untuk anak perempuan minimal usia 21 tahun," katanya. (Ant)
Analisis Data

Kajian analisa
1.      Struktur Makro (Tema)
Temanya adalah pergaulan bebas anak remaja akibat adanya tekanan dari orangtua.
2.      Superstruktur (Tematik/ kerangka susunan)

a. Pendahuluan
Awal berita menampilkan seorang pejabat pemerintahan daerah Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun dengan kutipan kalimat "Banyak kasus remaja hamil di luar nikah yang terjadi menjelang ujian nasional mengakibatkan anak tidak dapat mengikuti ujian," kata Sri Muslimatun,
b. Isi
-          Faktor terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja.
-          Banyaknya kasus hamil diluar nikah pada saat menjelang UN.
-          Pemerintah Kabupaten Sleman memiliki tugas untuk membina generasi muda
-          Pertimbangan aspirasi penulis
c. Penutup
Dalam wacana ini diakhiri dengan deklarasi untuk menikah bagi anak laki-laki minimal usia 25 tahun dan untuk anak perempuan minimal usia 21 tahun.
3.      Struktur Mikro
Struktur mikro yang menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika.
·         Detail
Adanya penonjolan informasi berita mengenai pergaulan bebas dikalangan remaja. Mulai dari kasus hamil diluar nikah menjelang Ujian Nasional hingga deklarasi untuk menikah bagi anak laki-laki minimal usia 25 tahun dan untuk anak perempuan minimal usia 21 tahun.
c.  Struktur Mikro Stilistik (pilihan kata yang dipakai)
-          Kata-kata Sosial, seperti Bina Keluarga Remaja (BKR), Pusat Konfirmasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
d.      Struktur Mikro Retorika
Aspek retorika suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan.
Dalam pemberitaan di atas ada bebera siasat dan cara yang digunakan, diantaranya:
-          Menonjolkan masalah pergaulan bebas akibat dari tekanan orangtua.
Simpulan
Analisis wacana ini di lakukan sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Analisis dengan menggunakan teori Van Djik ini membantu untuk mengamati bagaimana suatu teks terbangun oleh elemen-elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita tidak hanya mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga elemen yang membentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf, dan proposisi. Kita tidak hanya mengetahui apa yang diliput oleh media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa kedalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu.

Berdasarkan analisis data mengenai teks pemberitaan Pergaulan Bebas Remaja Akibat Tekanan Orangtua oleh Harian Analisa edisi Jum’at 15 April 2016 dapat di simpulkan bahwa terdapat tiga elemen sesuai dengan kajian dari Van Djik yaitu struktur makro, superstruktur, dan mikro.


Daftar Pustaka
Analisa, Harian. 15 April 2016. Pergaulan Bebas Remaja Akibat Tekanan Orangtua,(Online), (http://harian.analisadaily.com/wanita-dan-keluarga/news/pergaulan-bebas-remaja-akibat-tekanan-orangtua/229929/2016/04/15 diakses 2 Juli 2017)

Aprilia, Zendy. 12 Juni 2015. Analisis wacana teori Van Djik . (Online), (http://zendyaprilia.blogspot.co.id/2015/06/analisis-wacana-teori-van-djik.html diakses 2 Juli 2017)

Djajasudharma, Fatimah. 2010. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian.bandung : PT Refika Aditama.
Mertia, Evidanika Nifa, dkk. Hubungan Antara Pengetahuan Seksualitas dan Kualitas Komunikasi Orangtua dan Anak dengan Perilaku Seks Bebas Pada Remaja Siswa – Siswi MAN Gondangrejo Karanganyar. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Trisdiana, Yulia. 11 Juni 2015. Analisis Wacana Berdasarkan Teori Teun A. Van Dijk. (Online), (http://yullieatrissdhianna.blogspot.co.id/2015/06/analisis-wacana-berdasarkan-teori-teun.html diakses 2 Juli 2017)